Jumat, 25 Juli 2014

7 Pelajaran dari Puasa Ramadhan Untuk Tax Auditor

Bulan puasa sebentar lagi usai. Waktu sebulan ternyata tidak lama. Meskipun puasa di bulan Ramadhan pada dasarnya adalah ibadah bagi muslim, tetapi banyak pelajaran yang dapat diambil oleh Tax Auditor darinya untuk diaplikasikan dalam pekerjaannya sehari-hari, seperti berikut ini : 

  1. Kejujuran. Tidak ada keraguan, puasa melatih kita jujur. Kita benar-benar menyelesaikan puasa walaupun bisa saja kita berpura-pura sedang berpuasa, padahal nyatanya tidak. Tax Auditor dapat mengambil pelajaran dari puasa untuk selalu bersikap jujur dan adil saat bertugas. Tidak sampai merugikan atau menguntungkan satu pihak hanya karena kepentingan sendiri.
  2. Tepat Waktu. Saat puasa, kita diharuskan sahur dan berbuka dalam rentang waktu yang pasti. Tax Auditor juga memiliki rentang waktu yang sudah ditentukan untuk menyelesaikan tugasnya. Setelah terbiasa berpuasa, Tax Auditor dapat mengambil pelajaran untuk mengelola waktunya dengan lebih efektif.
  3. Peka. Saat berpuasa kita merasakan sulitnya orang yang kekurangan. Puasa melatih kita untuk peka terhadap orang lain. Dalam bekerja, Tax Auditor tidak bisa dipisahkan dari kerja tim. Kepekaan atas lingkungan tim adalah esensial untuk efektivitas pekerjaan. Deteksi masalah sejak dini dapat mencegah kerugian di masa depan. Itu tidak dapat dicapai kecuali dengan kepekaan yang terlatih, untuk merasai lingkungan sekitar, terutama tim kita.
  4. Siap Membantu. Di bulan Ramadhan, amat dianjurkan membantu sesama. Kita diajarkan untuk saling membantu dengan lingkungan di sekitar kita. Saling membantu adalah kualitas yang sangat diperlukan dalam kerja tim. Efektivitas kerja tim Tax Auditor akan tercapai bila masing-masing unsur dalam tim itu siap saling membantu untuk menuntaskan pekerjaan.
  5. Bersemangat. Puasa Ramadhan menjanjikan pahala yang besar bila kita mau banyak beribadah. Hal ini menyebabkan kita tetap semangat untuk beribadah, meskipun lapar dan lelah. Saat menjalankan tugas, Tax Auditor mungkin saja berhadapan dengan kondisi yang tidak nyaman. Pekerjaan bertumpuk, sementara waktunya mepet. Tax Auditor dapat mengambil pelajaran dari semangat orang berpuasa untuk menyelesaikan pekerjaan di tengah kesulitan.
  6. Menahan nafsu. Sejatinya, puasa adalah menahan hawa nafsu. Hal-hal yang halal seperti makan dan minum menjadi terlarang ketika berpuasa. Apalagi hal-hal yang haram. Puasa Ramadhan mengajarkan Tax Auditor untuk dapat menahan hawa nafsunya yang merugikan saat menjalankan tugas.
  7. Mengendalikan perasaan. Selama puasa kita diminta dapat mengendalikan emosi, termasuk tidak mudah mengumbar kemarahan. Tekanan pekerjaan yang berat dapat menyebabkan Tax Auditor kehilangan kendali. Dengan berpuasa, Tax Auditor dapat berlatih untuk mengendalikan perasaannya, sehingga tidak sampai menghambat kelancaran pekerjaan.

Rabu, 25 Juni 2014

8 Peraturan Terkait Pemeriksaan Pajak

Peraturan-peraturan di bidang pemeriksaan pajak bergerak cukup dinamis. Tidak jarang berubah dalam kurun waktu yang dekat. Perubahan terjadi seiring dengan perkembangan kebutuhan yang ada dalam praktik pemeriksaan di lapangan. Terkadang perubahan tersebut juga untuk mengantisipasi hal-hal yang sudah dapat diprediksikan.

Tax Auditor sebaiknya memahami 10 peraturan terkait pemeriksaan pajak berikut ini agar dapat menjalankan pekerjaannya dengan baik :

1. PMK-17/PMK.03/2013, tentang Tata Cara Pemeriksaan.
2. SE-85/PJ/2013, tentang Kebijakan Pemeriksaan.
3. PER-23/PJ/2013, tentang Standar Pemeriksaan.
4. SE-65/PJ/2012, tentang Pedoman Penggunaan Metode dan Teknik Pemeriksaan.
5. SE-126/PJ/2010, tentang Pedoman Penyusunan Rencana Pemeriksaan (Audit Plan) Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan.
6. SE-04/PJ/2012, tentang Pedoman Penyusunan Program Pemeriksaan Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan.
7. SE-08/PJ/2012, tentang Pedoman Penyusunan Kertas Kerja Pemeriksaan Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan.
8. SE-09/PJ/2012, tentang Pedoman Penyusunan Laporan Hasil Pemeriksaan Untuk Menguji Kepatuhan Pemenuhan Kewajiban Perpajakan.



Senin, 31 Oktober 2011

7 Blog Pajak Terbaik Untuk Belajar Pajak

Pemahaman tentang pajak saat ini seharusnya semakin mudah karena banyak konten perpajakan yang bisa dinikmati. Salah satunya melalui media blog. Banyak diantara pengelola blog pajak adalah para praktisi yang bergelut langsung dengan dunia perpajakan, sehingga tulisannya lebih mudah dipahami karena menyentuh persoalan nyata yang dihadapi sehari-hari. 


Tax auditor perlu membaca blog-blog pajak tersebut karena beberapa alasan. Pertama, tentu untuk menambah wawasan. Kedua, untuk mengikuti perkembangan peraturan perpajakan yang sangat dinamis. Ketiga, untuk mengetahui opini yang berkembang ditengah para pihak yang berhubungan dengan pajak. Keempat, blog-blog tersebut bisa menjadi referensi online saat diperlukan. Dan yang terakhir, dapat bertanya atau berkonsultasi langsung dengan penulisnya.

Berikut ini 7 blog pajak yang sangat bermanfaat untuk diikuti :

1. Blog Pajak Indonesia

2. Pajakita


3. Catatan Praktek Perpajakan



4. Maskokilima



5. Triyani's Weblog



6. In My Eyes



7. Afdal Zikri

Sabtu, 10 September 2011

Welcome To The Club

Suara ceriwis kawanan burung langsung menyelinap ke dalam kamar begitu saya membuka jendela. Tiap pagi, ada puluhan atau mungkin ratusan burung kecil yang melayang di atas langit kos saya. Tidak ada pemandangan seperti ini di Jakarta. Tentu saja, saya terpesona.

Di Denpasar, tingkat kesibukan belum seperti di Jakarta. Disini, tidak saya lihat kesemrawutan lalu lintas seperti crowded lalu lintas di Jakarta. Tidak heran, saya hanya perlu 10 menit dari kos ke kantor. Di Jakarta, saya butuh waktu 5 sampai 6 kali lipatnya.

Di Bali yang indah, saya tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menikmati kemolekan alamnya. Meski terhitung pendatang baru, saya sudah menjelajahi keelokan Bedugul yang sejuk, kecantikan Tanah Lot, keunikan Ubud dan tentu saja pesona menjelang senja di pantai Kuta dan Legian.

Saya senang ada di sini. Saya bersyukur untuk kota yang tenang, beban pekerjaan yang tidak melimpah, udara yang bersih, air yang jernih, penduduk yang ramah dan alam yang mengagumkan. Saya bersyukur untuk itu semua.

Tidak terasa sudah lebih dua bulan saya ditugaskan di Denpasar. Setelah lama bertugas di Jakarta, inilah kali pertama saya meninggalkan Pulau Jawa. Ini juga pertama kalinya saya hidup terpisah dari keluarga. Orang bilang saya bujang lokal. Dan inilah nasib si bujang lokal. Semua serba sendiri. Mulai dari makan, minum, nonton tivi, menyapu, sampai tidur, semua dilakukan sendiri, karena tidak ada keluarga yang ikut.

Walaupun ditemani dengan banyak kesyukuran tinggal di sini, terkadang saya masih  terusik dengan ketiadaan keluarga. Sesekali menyusup ke dalam pikiran, sedang apa si bungsu? Apakah dia baik-baik saja? Apakah dia sakit? Apakah dia terlambat sampai di sekolah? Apakah dia sudah mengerjakan PR? Di dalam hati, saya bertanya bagaimana para bujang lokal mengatasi hal-hal seperti ini.

Diam diam saya mengagumi seorang teman yang sudah 4 tahun lebih menjadi bujang lokal. Tampaknya dia menjalani takdirnya dengan ringan. Selain bekerja dengan semangat, dia mengisi waktu senggangnya dengan memuaskan hobinya : memotret, main bulutangkis dan travelling. Saat saya ceritakan kegundahan saya, dia tersenyum. Meski tidak bicara, dari caranya tersenyum, saya tahu dia mau bilang : sobat, welcome to the club.

Kamis, 04 September 2008

Faktur Pajak Sederhana Yang Tidak Sederhana

Satu kesalahan yang saya lihat kerap dilakukan Wajib Pajak penerbit faktur pajak sederhana : saat pembuatannya. Mungkin luput dari perhatian, karena terbiasa membuat faktur pajak standar.

Faktur pajak standar dibuat paling lambat pada akhir bulan berikutnya setelah penyerahan. Atau pada saat pembayaran, bila terjadi lebih dulu. Berbeda dengan faktur pajak standar, faktur pajak sederhana harus dibuat pada saat penyerahan (PER-97/PJ./2005).

Wajib Pajak pembuat faktur pajak sederhana yang pembelinya ada di luar kota, biasanya mengonfirmasikan dulu barangnya sudah diterima, baru membuat faktur pajak sederhana. Akibatnya terjadi perbedaan tanggal pembuatan dan saat penyerahan.

Sabtu, 12 Januari 2008

4 Predator Waktu Tax Auditor

Jika Anda Tax Auditor, waspadailah para pemakan waktu Anda. Layaknya predator, hal-hal berikut ini dapat memangsa waktu Anda :

1. Internet.
Sebenarnya, internet sangat membantu pekerjaan Anda. Kirim atau terima data, misalnya, dengan email jadi lebih cepat. Cari alamat atau profil Wajib Pajak, contohnya, dengan internet jadi lebih mudah. Namun, saat menyusuri halaman demi halaman di dunia maya, Anda bisa lupa tujuan semula. Hanyut dalam informasi-informasi yang tidak relevan. Habislah waktu untuk hal-hal yang tidak perlu. Sebab itu, ingatkan diri Anda untuk mematikan koneksi ke internet begitu keperluan sudah selesai.

2. Wajib Pajak yang Lelet.
Beberapa Wajib Pajak sering lamban bergerak. Data berlarut-larut baru diberi. Janji ketemu, tapi tidak ditepati. Pertanyaan tidak direspon sama sekali. Sudah diingatkan berkali-kali tapi tidak diikuti. Wajib Pajak seperti ini hanya akan membuang waktu Anda. Jadi, bersikaplah tegas dalam menerapkan prosedur pemeriksaan yang sudah ada.

3. Kebiasaan Jam Karet.
Bila Anda senang menunda pekerjaan, Anda pasti akan kewalahan. Tugas-tugas yang ditunda itu akan menumpuk tinggi. Perlu energi besar untuk menyelesaikannya . Menjelang jatuh tempo, bulan Maret misalnya, Anda akan menyesal. Waktu Anda akan dimangsa tanpa ampun. Anda perlu lembur untuk mengerjakannya. Bukan hanya di kantor, tapi juga di rumah. Bukan hanya hari kerja, namun juga hari libur. Untuk menghindari ini, kuncinya hanya satu : disiplin menuntaskan pekerjaan.

4. Berulang-ulang Meriset.
Saat mendapatkan kasus yang tidak bisa langsung Anda pecahkan, Anda perlu melakukan riset. Terutama riset atas peraturan pajak. Di kemudian hari, ketika mendapatkan kasus yang sama, Anda lupa bagaimana perlakuan pajaknya. Akhirnya Anda melakukan riset lagi. Hal ini bisa menghabiskan waktu. Karena itu, simpanlah hasil riset Anda. Buatlah semacam daftar FAQ, agar Anda segera mendapatkan jawaban begitu muncul kasus yang berulang.